Kamis Putih dan Tuguran

Pada Hari Raya Kamis Putih kita umat Katolik memperingati dan mengenang Perjamuan Malam terakhir Yesus dengan murid-muridNya sebelum Ia diserahkan ke Pontius Pilatus (penguasa Yahudi pada jaman itu) untuk disalibkan. Sebelum wafatNya, Yesus ‘menginstruksikan’ murid-muridNya untuk mengenangkan dan ‘melakukan’ Perjamuan Kudus dalam rupa roti (Tubuh Kristus) dan anggur (Darah Kristus).

Singkatnya, Hari Kamis Putih merupakan hari pengenangan akan peristiwa hari-hari terakhirnya Yesus bersama-sama dengan murid-muridNya sebelum Ia wafat di kayu salib.

Perayaan misa Kamis Putih hendaknya dilaksanakan pada Kamis malam atau Kamis petang/sore sesuai dengan pesan amanatnya dalam Perjamuan TerahkirNya.

Dalam Perjamuan Malam Terakhir (Bahasa Inggris : the Last Supper) dengan kedua belas muridNya, Yesus dikhianati oleh seorang muridNya sendiri yaitu Yudas Iskariot. Yudas menyerahkan Yesus kepada serdadu Pontius Pilatus.

Setelah hari malam, datanglah Yesus bersama-sama dengan kedua belas murid itu.
Ketika mereka duduk di situ dan sedang makan, Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku, yaitu dia yang makan dengan Aku.”
Maka sedihlah hati mereka dan seorang demi seorang berkata kepada-Nya: “Bukan aku, ya Tuhan?”
Ia menjawab: “Orang itu ialah salah seorang dari kamu yang dua belas ini, dia yang mencelupkan roti ke dalam satu pinggan dengan Aku.
Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.”

(Matius 26 : 20-25)

Akan tetapi Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku.”
(Matius 26:29).

Dalam Kamis Putih terdapat Pembasuhan Kaki Para Rasul (pembasuhan telapak kaki). Pembasuhan kaki dilakukan untuk mengenang pelayanan yang dilakukan Yesus terhadap kedua belas muridNya sebelum Perjamuan TerakhirNya. Pembasuhan kaki para Rasul ini juga menyiratkan makna bentuk pelayanan yang tanpa batas. Dengan kerendahan hatiNya, Yesus yang merupakan Raja dari segala raja Dia mampu dan mau ‘melayani’ membasuh telapak kaki para muridNya.

Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu, bahwa saat-Nya sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada Bapa. Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.
kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.

(Yohanes 13 : 1, 5).

Di gereja biasanya pada Kamis Putih dilakukan ritual/prosesi pembasuhan telapak kaki kepada 12 orang (biasanya) laki-laki sebagai simbolis pembasuhan kaki para Rasul oleh Yesus.

Tuguran. Apa itu Tuguran?. Istilah Tuguran berasal dari Bahasa Jawa yang artinya kurang lebih ‘berjaga-jaga’. Maksudnya berjaga-jaga bersama Tuhan Yesus.

Tuguran merupakan salah satu bentuk doa hening (selain Adorasi) untuk ‘berjaga-jaga’ bersama Tuhan Yesus melalui ‘media’ Sakramen MahaKudus yang tertahta. Tuguran sesekali dilakukan dengan selingan nyanyian mengiringi doa. Tuguran dilakukan dengan cara duduk, bersedeku (berlutut), duduk sila di depan Sarkramen MahaKudus yang disimpan di Tabernakel atau Monstran. Kita bertuguran dengan sikap hormat, dan merendahkan ego kita di depan Sakramen MahaKudus yang adalah Yesus sendiri.

Saat hening menjadi bagian terpenting dari Tuguran. Tuguran merupakan bentuk partisipasi umat berdoa bersama Yesus di Taman Getsemani. Di taman itu, Yesus berdoa sebelum Dia disiksa oleh serdadu-serdadu dan wafat di kayu salib. Hening adalah suasana yang pantas menggambarkan peristiwa itu.

Pelaksanaan Tuguran dilaksanakan oleh umat, secara kelompok-kelompok secara bergantian. Durasi waktu Tuguran tidak ada aturan bakunya, bebas sesuai dengan kerelaan hati kita masing-masing, tetapi umumnya sesingkat-singkatnya satu jam, untuk kelompok anak-anak (usia 13 tahun keatas sampai remaja) biasanya selama setengah jam.

Tuguran memaknai peristiwa ketika Yesus berdoa di Taman Getsemani sebelum Ia menderita sengsara, Ia berdoa kepada BapaNya dan melakukan apa yang seturut kehendak BapaNya.

Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.”
Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar,
lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.

Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.
Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?
Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”

Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!”
Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat.
Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga.

Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.
Bangunlah, marilah kita pergi. Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.”

Matius 26 : 36-46.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *