OMK 

Santa Teresa dari Yesus

Sekilas mengenai Santa Teresa dari Yesus

Teresa de Ahumada y Cepeda adalah nama lengkap Santa Teresa dari Avila, Spanyol yang juga disebut Santa Teresa dari Yesus. Ia lahir pada 28 Maret 1515. Pada tahun 1536 ia masuk Biara Karmel “Penjelmaan”, Avila. Satu tahun berikutnya ia mengikrarkan profesi atau kaul sebagai seorang rubiah Karmelites. Hari-hari hidupnya yang senantiasa diisi dengan doa, baik doa bersama komunitas maupun doa-doa pribadi telah membuatnya makin matang dalam hidup rohani. Ia meninggal pada 04 Oktober 1582 dan dikanonisasi pada 12 Maret 1622 oleh Paus Gregorius XV.

Lukisan Yesus
Salah satu sarana doa yang dipakai oleh Teresa yaitu lukisan tentang Yesus yang terluka disalib. Kata Teresa dalam buku Otobiografi yang dia tulis pada tahun 1562, “Suatu hari ketika masuk ruang doa, saya melihat sebuah lukisan yang dipinjam untuk suatu pesta di biara. Gambar itu melukiskan Yesus yang amat menderita luka. Lukisan tersebut amat membangkitkan rasa takwa, sehingga ketika saya mengamatinya, saya sedih sekali melihat Dia dalam keadaan seperti itu, terlukis baik sekali apa yang sudah diderita-Nya, sehingga hatiku terasa hancur. Sambil berlinang air mata, kumohon Dia menguatkan saya sekarang dan selama-lamanya agar saya tidak menghinakan Dia lagi” (Otobiografi IX, 1).

Bagi Teresa, lukisan bisa menjadi sarana doa, berkomunikasi dengan Tuhan. Lukisan tentang Yesus bisa membangkitkan sikap Tobat, tidak ingin menghina Tuhan lagi.

Istana Hati
Dalam buku Jalan Kesempurnaan yang dia tulis pada tahun 1566, Teresa menulis pengalaman rohaninya demikian, “Mari kita bayangkan bahwa di dalam diri kita ada sebuah istana yang luar biasa indah, yang dibangun seluruhnya dari emas dan batu-batu berharga; pendeknya dibangun bagi Tuhan. Bayangkan juga – seperti keadaan sesungguhnya – bahwa kamu harus berperan dalam menjadikan istana ini begitu indah, karena tak ada sebuah bangunan yang begitu indah seperti seperti satu jiwa yang murni dan penuh kebajikan. Makin besar kebaikan, makin gemerlap permata hati. Bayangkan pula, di dalam istana ini berdiam Raja yang berkuasa itu, yang begitu murah hati, sehinga mau menjadi Bapamu dan Ia bertakhta di atas singgasana yang amat indah ini, yakni hatimu” (Jalan Kesempurnaan, XXVIII, 9).

Refleksi
Pernahkan kamu menyadari bahwa hati kamu adalah istana bagi Sang Raja, yakni Allah Bapa?
Apakah kamu juga berperan untuk menjadikan istana hati kamu tetap bersih dan layak bagi Sang Raja?

.
Sumber : Ruah OND 2019, Karmelindo.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *