Hallo teman teman muda mudi Katolik, apa kabar ? Shalom.
Yey, teman-teman sebentar lagi tahun baru Imlek nih. Apa yang terlintas dibenak teman-teman tentang Imlek also know as Sincia ? Angpao dan warna merah menjadi ciri khas utama dari perayaan Imlek.
Tetapi ada yang dilematis juga gak yah tentang antara perayaan Imlek dan iman Katolik ? Bagi yang Katolik etnis Tionghoa barangkali masih ‘mempertentangkan’ antara iman Katolik kita (konsekuensi kita baptis) atau berpijak pada tradisi yang telah diwariskan turun temurun dari orang tua yang harus dipelihara.
Ada yang merasa karena sudah dibaptis Katolik baik dari bayi maupun baptis Katolik dewasa, maka otomatis semua tradisi warisan turun temurun orang tua dihilangkan. Namun terkadang ada juga yang tetap mengimani iman Katolik dan menghidupi budaya tradisi Tionghoa yang telah diwariskan turun temurun.
Antara iman Katolik dan tradisi budaya Tionghoa (Imlek) sebenarnya tidak perlu dipertentangkan, Gereja Katolik mengakui dan menghargai budaya dan nilai-nilai luhur kemanusian yang berada diluar Gereja Katolik, asalkan budaya tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik.
Merayakan Imlek bisa menjadi kesempatan dan proses katekese umat Katolik untuk memurnikan dan menguatkan iman Katolik melalui tradisi yang sejalan dengan Iman Katolik (inkulturasi budaya Katolik). Tentu saja untuk beberapa tradisi dalam budaya yang bersifat takhayul dan bertentangan dengan iman Katolik harus kita hindari.
Sebenarnya kalau ditinjau dari sisi iman Katolik, ada beberapa nilai-nilai moral dari tradisi Imlek ini yang sejalan dengan pengamalan iman Katolik, diantaranya :
- Tradisi makan bersama malam hari menjelang tahun baru Imlek.
Tradisi ini sejalan dengan warisan Yesus Kristus dalam Perjamuan makan malam terakhir yang memberi semangat kasih persaudaraan antar umat beriman dalam hidup bersama. - Memberi hormat dan mengucapkan selamat tahun baru Imlek kepada orang tua dan sesama.
Tradisi ini sejalan dengan salah satu dari Sepuluh Perintah Allah, yakni menghormati orang tua kita. - Memberi Angpao.
Tradisi ini sejalan dengan nilai solidaritas kepedulian kepada yang lemah, miskin, dan tersingkir. - Makan makanan khas Imlek (kue keranjang, jeruk mandarin/ponkan, coklat, dan lainnya yang sejenis).
Tradisi ini menjadi simbolis harapan akan hal-hal yang baik. Sejalan dengan keyakinan Iman Katolik akan iman, harapan dan kasih persaudaraan.
Bagi orang Tionghoa, warna merah mempunyai makna kegembiraan atau sukacita. Dalam Tradisi iman Katolik, warna (liturgi) merah melambangkan kemartiran dan pengorbanan. Kedua makna tersebut saling melengkapi. Kebahagiaan bisa diraih melalui semangat kemartiran dan pengorbanan.
Selamat merayakan tahun baru Imlek.
Happy Lunar new year.
Gong Xi Fa Cai.
.
Dikutip dengan perubahan dan pengembangan seperlunya dari penjelasan-penjelasan RD. Martinus M. lewat Komkep Keuskupan Purwokerto.