Riwayat mengenai perjalanan Imamat Uskup Emiritus Manado, Mgr. Joseph Teodorus Suwatan, M.S.C.
Umat Paroki Hati Kudus Yesus Tegal, pada hari Minggu tanggal 20 Januari 2019 kemarin kedatangan tamu dari Manado, Sulawesi Utara. Ya, Uskup Emiritus Manado, Mgr. Joseph Suwatan, M.S.C. ‘pulang kampung’ ke kota kelahirannya di Kota Tegal.
Tanggal 20 Januari 2019 pukul 17:00 di gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus Tegal digelar Misa Syukur ke-50 tahun Imamat Mgr. Joseph Suwatan, M.S.C. Setelah selesai misa dilanjutkan acara ramah-tamah bersama umat Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Tegal di Aula Sekolah Dasar (SD) Pius Tegal, yang berlokasi di sebelah utara bangunan gereja HKY Tegal.
Mgr. Joseph Theodorus Suwatan, M.S.C. lahir pada tanggal 10 April 1940 di Kota Tegal, Jawa Tengah, Hindia Belanda (sebutan Indonesia pada saat itu). Beliau merupakan anak sulung dari dua bersaudara, dari pasangan suami istri bapak Theodorus Charirwakim (Tan Kwan Kim) dan ibu Chatarina Srilany (Jo Tjwie Lan Nio).
Uskup Suwatan pada pada masa mudanya mengenyam pendidikan di SD dan SMP Pius Tegal. Setelah lulus dari SMP Pius Tegal, beliau memutuskan untuk mendaftar ke SMA Kanisius di Jakarta sejak tahun 1955 hingga 1959. Selama bersekolah beliau bermukim bertempat tinggal di asrama.
Semasa muda Uskup Suwatan bercita-cita menjadi dokter, namun karena gagal tes, beliau akhirnya sempat menjalani pendidikan FIPIA (Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam), Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Farmasi.
Panggilan beliau ke dalam imamat terkait dengan cerita guru agamanya, Pater Kooymans OSC, yang menceritakan bahwa seorang imam muda telah meninggal dunia akibat kecelakaan. Hal inilah membuatnya bertekad untuk menggantikannya. Dan beliau memutuskan keluar dari ITB.
Dari mula Uskup Suwatan hendak bergabung dengan tarekat MSC (Missionarii Sacratissimi Cordis Iesu, dalam bahasa Indonesia : Misionaris Hati Kudus Yesus). Superior MSC Keuskupan Purwokerto, tempat mendaftar, langsung mengirimnya ke Purbalingga untuk belajar bahasa Latin kepada PW Zeegers MSC. Setelah satu tahun, beliau dinyatakan lulus dan diperbolehkan masuk Novisiat MSC di Pineleng, Sulawesi Utara.
Karena situasi pada tahun 1960an sedang berkecambuk perang Permesta (Perdjuangan Rakjat Semesta, gerakan sipil dan militer di Indonesia timur pada saat itu), beliau dikirim ke Filipina untuk Novisiat. Setelah Novisiat, beliau belajar filsafat dan teologi di Pineleng, Sulawesi Utara.
Uskup Suwatan MSC mengucapkan kaul pertama pada tanggal 31 Mei 1962 bertepatan dengan Pesta Santa Perawan Maria mengunjungi Elisabeth. Kaul kekal ia ucapkan tiga tahun kemudian.
Beliau ditahbiskan menjadi imam dari Ordo Misionaris Hati Kudus Yesus pada tanggal 08 Januari 1969 di Paroki asalnya di Tegal, Jawa Tengah. Setelah ditahbiskan, beliau sempat menjadi pastor pembantu di Paroki Santo Josep Purwokerto Timur. Setelah satu tahun bertugas di Paroki, beliau ditugaskan untuk studi lanjut di Universitas Katolik Leuven, Belgia untuk mempelajari teologi dokmatik sejak tahun 1970 hingga tahun 1974. Setelah lulus beliau diminta menjadi dosen teologi di Seminari Pineleng merangkap pembina para frater skolastikat.
Selanjutnya ia ditugaskan menjadi superior skolastikat, pemimpin rumah biara para calon imam MSC di Pinelang Sulawesi Utara selama tujuh tahun. Kapitel (rapat umum anggota) MSC Provinsi Indonesia memilihnya menjadi Provinsial MSC Indonesia selama sembilan tahun atau tiga periode masa jabatan.
Pada tanggal 8 Februari 1990, Paus Yohanes Paulus II menunjuknya sebagai Uskup Manado. Beliau ditahbiskan menjadi Uskup Manado pada tanggal 29 Juni 1990 di Stadion Klabat. Bertindak sebagai Uskup Konsekrator adalah Uskup Agung Franscesco Canalini.
Mgr. Suwatan MSC dipilih menjadi ketua KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) untuk masa jabatan 1997-2000. Dalam kedudukannya di KWI dan dalam kaitan dengan peringatan hari kemerdekaan Indonesia pada tahun 1999 ia menulis pernyataan keras mengecam para pemimpin negara yang gagal melayani kepentingan rakyat, serta menyerukan diakhirinya korupsi yang meluas di lingkungan pemerintah.
Uskup Suwatan juga turut berperan dalam ikut meredakan kerusuhan di Poso, Selawesi Tengah. Pada tahun 2001 ia menghimbau komunitas internasional agar mencegah terjadinya genosida di Poso. Beliau juga memimpin perayaan Ekaristi untuk memberikan penghormatan terakhir kepada seorang imam Yesuit, Tarcisius Dewanto SJ, anggota Serikat Yesus Provinsi Indonesia yang ikut menjadi korban tindak kekerasan di Timor Timur, di kompleks Gereja Nossa Senhora de Fatima, Suai pada awal September 1999. Beliau dikenal sebagai sosok yang mandiri, humoris dan suka anak-anak.
Kepemimpinan Keuskupan Manado kemudian dilanjutkan oleh Mgr. Benedictus Esthepanus Rolly Untu, MSC yang terpilih pada 12 April 2017 dimana Mgr. Suwatan MSC menjadi uskup konsekrator bersama dengan Mgr. Johannes Liku Ada’. Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Antonio Guido Filipazzi bertindak sebagai Pentahbis Utama.
.
Credidimus Caritati (Yohanes 4:16) Kita telah mengenal dan telah percaya akan cinta Allah kepada kita.
Uskup Emiritus Manado, Mgr. Joseph Theodorus Suwatan, M.S.C.
.
Sumber :
Panitia Misa Syukur Peringatan 50 Tahun Imamat Mgr. Joseph Suwatan MSC.
Paroki Hati Kudus Yesus Tegal.