“Melalui Sakramen Krisma orang dikuatkan sebagai pejuang Kristus”. (St  Bonaventura).
Sakramen Krisma (disebut juga Sakramen Penguatan) merupakan tanda kedewasaan iman seseorang. Penerimaan Sakramen Krisma melengkapi rahmat pembaptisan dan menyempurnakan inisiasi. Melalui Sakramen Krisma, seseorang diikat secara kebih kuat dan sempurna dengan Gereja serta diperkaya dengan daya kekutan Roh Kudus.
Konsekuensi dari sakramen Krisma adalah tanggung jawab iman dan semakin wajib untuk menyebarluaskan dan membela iman sebagai saksi Kristus.
Dasar Kitab Suci mengenai Sakramen Krisma :
Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus. (Kis 8:16-17)
Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. (Kis 19:5-6).
Dalam Sakramen Krisma juga ada Pengurapan dengan minyak Krisma yang berarti kita yang sudah menerima Krisma Dikuduskan, Dikhususkan, dan menerima Kuasa untuk melakukan tugas perutusan kita sebagai umat beriman (bdk 1 Samuel 10:1; 1Samuel 16:13; 1 Raj 1:39). Dengan menerima Sakramen Krisma, kita menerima Roh Kudus yang merupakan meterai, Tanda bahwa kita ini milik Allah.
Materi dan Forma Sakramen Krisma:
- Materi: Minyak Krisma (minyak zaitun).
- Forma: Semoga dimaterai oleh karunia Allah dan Roh Kudus.
Rahmat dalam Sakramen Krisma:
- Menjadikan kita sungguh Anak Allah.
- Menyatukan lebih teguh dengan Kristus.
- Menambahkan karunia Roh Kudus ke dalam diri kita.
- Mengikat kita lebih sempurna dengan Gereja.
- Menganugerahkan kepada kita kekuatan Roh Kudus.
Seperti pada proses penerimaan Sakramen Baptis, sebelum menerimakan Sakramen Krisma seorang Krismawan (calon Krisma) mengikuti dahulu pelajaran agama atau pembekalan dari Katekis atau orang yang ditunjuk mengajar.