Sekilas tentang Keuskupan Purwokerto.
Dioecesis Purvokertensis | Keuskupan Purwokerto.
Gembala *
Uskup : Sede vacante (tahta towong)
Administrator Diosesan : RD. Tarcisius Puryatno
Sekretaris Keuskupan : RD. FX. Bagyo Purwosantosa
Ekonom Keuskupan : RD. Sheko Swandi M.B
Keuskupan Purwokerto adalah keuskupan sufragan pada Provinsi Gerejani Keuskupan Agung Semarang (KAS). Wilayah Keuskupan Purwokerto meliputi umat beriman Katolik yang bermukim berada di Provinsi Jawa Tengah bagian barat.
Awalnya pada tahun 1927 para misionaris Hati Kudus (MSC) dari Belanda mulai menetap di Purwokerto. Pada 25 April 1932 Prefektur Apostolik Purwokerto didirikan ketika jumlah umat sekitar 4000 orang. Jumlah umat Katolik semakin banyak maka status Prefektur Apostolik itu kemudian ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik Purwokerto pada 16 Oktober 1941 menjadi Diosis atau Keuskupan Purwokerto.
Keterangan tambahan :
Prefektur Apostolik adalah bentuk otoritas rendah untuk suatu wilayah pelayanan dalam Gereja Katolik Roma yang dibentuk di sebuah daerah misi dan di negara yang belum memiliki keuskupan. Prefektur apostolik dipimpin oleh seorang Prefek Apostolik, yang biasanya adalah seorang pastor dan bukan uskup.
Vikariat Apostolik adalah bentuk otoritas untuk suatu kawasan dalam Gereja Katolik Roma yang dibentuk dalam wilayah misi di negara yang belum memiliki keuskupan. Biasanya status suatu wilayah dalam Vikariat Apostolik bersifat sementara, jika wilayah misi itu sudah berkembang dan memiliki pertumbuhan umat yang cukup dan bisa memenuhi syarat untuk menjadi sebuah keuskupan.
Tahapan menjadi suatu Keuskupan :
- misi,
- Prefektur Apostolik,
- Vikariat Apostolik,
- Keuskupan;
Saat ini Keuskupan Purwokerto memiliki 22 paroki yang tersebar di 12 kabupaten dan 2 kota. 22 paroki tersebut terbagi dalam 4 Dekenat yaitu Dekenat Selatan, Dekenat Tengah, Dekenat Timur, dan Dekenat Utara.
Dekenat Selatan
- Paroki Santo Mikael, Gombong – 1927
- Paroki Santo Stephanus, Cilacap – 1930
- Paroki Santo Yohanes Vianney, Kebumen – 1958
- Paroki Santo Yosef Pekerja, Karanganyar Kebumen – 1963
- Paroki Santo Yoseph, Sidareja Cilacap – 2002
- Paroki Tyas Dalem, Kroya Cilacap – 2005
- Paroki Santa Theresia, Majenang Cilacap – 2010
Dekenat Tengah
- Paroki Katedral Kristus Raja, Purwokerto Barat – 1927
- Paroki Santa Maria Immacuata, Banyumas
- Paroki Santo Agustinus, Purbalingga – 1936
- Paroki Santo Yosef, Purwokerto Timur – 1967
- Paroki Santo Antonius, Banjarnegara – 1997
Dekenat Timur
- Paroki Santa Perawan Maria, Purworejo – 1927
- Paroki Santo Paulus, Wonosob0 – 1932
- Paroki Santo Yohanes Rasul, Kutoarjo Purworejo – 1935
- Paroki Santo Stefanus, Purwosari – 2001
- Paroki Santo Philipus, Kapencar, Wonosobo – 2001
Dekenat Utara
- Paroki Hati Kudus Yesus, Tegal – 27 November 1927
- Paroki Santo Petrus, Pekalongan – 01 November 1930
- Paroki Santo Lukas, Pemalang – 25 April 1971
- Paroki Santo Yusuf, Batang – 2002
- Paroki Santa Maria Fatima, Brebes – 2002
- Paroki Santa Maria Immaculata, Slawi – 08 Desember 1982
- Paroki Santo Yosef, Mejasem Kabupaten Tegal – 2010
- Paroki Gembala Yang Baik, Limpung Batang – 2012
Uskup yang pernah menjabat
- Guillaume Schoemaker, M.S.C. menjabat pada 03 Januari 1961 sampai 17 Desember 1973, (mengundurkan diri).
- Paschalis Soedita Hardjasoemarta, M.S.C. menjabat pada 17 Desember 1973 sampai 23 Mei 1999, (wafat).
Sede vacante (jabatan lowong) dari tanggal 23 Mei 1999 sampai 10 Mei 2000). - Julianus Kema Sunarka, S.J. menjabat pada 10 Mei 2000 sampai 29 Desember 2016, (pensiun).
Sede vacante (jabatan lowong) dari tanggal 29 Desember 2016 sampai dengan sekarang diisi oleh R.D. Tarcisius Puryatno sebagai administrator diosesan.
Di teritorial wilayah Keuskupan Purwokerto ada tempat peziarahan Katolik yang sangat terkenal. Gua Maria Kaliori.
Gua Maria Kaliori merupakan sebuah tempat ziarah Katolik yang terletak di desa Kaliori kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas. Terletak sekitar 20 Km dari pusat kota Purwokerto. Di lahan seluas 5,6 hektar ini terdapat berbagai fasilitas seperti pendopo untuk istirahat, gereja dan beberapa tempat duduk di bawah pohon yang rindang. Di sini peziarah juga bisa mengunjungi ke kompleks makam yang terdapat patung-patung malaikat. Ada juga patung Bunda Maria yang sudah diberkati oleh Paus Yohanes Paulus II.
Pembangunan Gua Maria Kaliori dimulai pada tanggal 15 Agustus 1989 dengan ditandai Peletakan Batu Pertama oleh Uskup Purwokerto Mgr. P. S. Hardjasoemarta MSC. Pada tanggal 10 Oktober 1989 dalam Misa Agung di Yogyakarta, Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II berkenan memberkati Patung Bunda Maria dan menandatangani Prasasti Gua Maria Kaliori, yang kemudian pada tanggal 08 Desember 1989 Gua Maria Kaliori diberkati dan diresmikan penggunaannya.
Keuskupan Purwokerto menyerahkan pengelolaan Gua Maria Kaliori kepada Konggregasi Oblat Maria Immaculata (OMI) yang memiliki kharisma didalam hal pengelolaan Gua Maria di berbagai negara di dunia.
Di Keuskupan Purwokerto ada akulturasi kebudayaan Jawa Katolik. Wayang Wahyu.
Akulturasi atau pertemuan antar dua kebudayaan terjadi di Keuskupan Purwokerto dalam seni pertunjukan Wayang Wahyu, yaitu budaya narasi Semitis dan budaya narasi Jawa (cerita wayang kulit). Narasi Semitis ada dalam Kitab Suci Katolik, yaitu kisah-kisah tentang tokoh-tokoh Kekristenan yang hidup pada kebudayaan masa lampau, misalnya kisah mengenai Nabi Musa, Nabi Elia, Yusup dan sebagainya. Sedangkan cara berkisahnya (bernarasi) orang Jawa ditemukan dalam cerita wayang kulit.
Kesenian Wayang Wahyu didirikan atas prakarsa Bruder L. Timotius Wignyosubroto FIC. Wayang Wahyu adalah wayang yang reportoarnya diambil dari Kitab Suci Perjanjian Lama dan/atau Perjanjian Baru. Isi cerita dan pesan Kitab Suci diperagakan dalam bentuk pertunjukan kesenian wayang kulit. Bentuk wayang dibuat khusus misalnya tokoh Yesus, Maria, dan Yusuf.
Kerangka pertunjukan kesenian Wayang Wahyu menggunakan konsep estetika pedalangan pada umumnya, yaitu :
- pelaku pertunjukan, yang terdiri dari dalang sebagai pelaku utama dan pengrawit, pesinden, penggerong sebagai pelaku pendukung;
- unsur garap pakeliran, yang meliputi : lakon dan sanggit, catur, sabet dan karawitan pakeliran;
- peralatan pertunjukan meliputi : wayang, kelir, kotak, keprak, cempala, gamelan, serta lampu;
- penghayat seni pedalangan.
(*)
Data pada saat tulisan ini ditulis.
Dikutip seperlunya dengan perubahan, dari :
www.keuskupan-purwokerto.org/home
www.ayd7.asianyouthday.org/keuskupan-purwokerto
diakses pada 21 Januari 2018.