Salam Damai dalam Kristus.
Memandang orang muda, Gereja ingin menegaskan kembali keinginannya untuk menjumpai, mendampingi dan memperdulikan setiap orang muda tanpa terkecuali. Gereja tidak dapat dan juga tidak hendak meninggalkan mereka.
Iman dan Panggilan.
Iman adalah sebuah keyakinan, persetujuan, dan sekaligus relasi pribadi antara manusia dengan Allah.
Hanya dengan bantuan rahmat dan pertolongan batin Roh Kudus, manusia mampu percaya. Di satu sisi, iman adalah anugerah Allah, yang tanpanya, manusia tidak bisa menerima dan mengakui Yesus sebagai Allah dan Tuhan. Tingkatan paling tinggi dalam iman adalah agar kita mampu “melihat dan bersikap seperti bagaimana Yesus melihatnya”.
Dalam terang iman, orang muda secara bertahap mampu menjadi sadar akan rencana kasih mendalam Allah bagi setiap orang yang dipilih-Nya.
Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.
(Yoh. 15:16).
Percaya adalah mendengarkan Roh dan berdialog dengan Sabda, yang adalah jalan, kebenaran dan kehidupan.
Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
(Yoh. 14:6).
Percaya pada Sabda dengan ‘menjelmakan-Nya’ dalam peristiwa-peristiwa hidup sehari-hari, disaat-saat ketika salib kita terima dan ketika seseorang mengalami sukacita melihat tanda-tanda kebangkitan. Tantangan ini harus dihadapi oleh setiap komunitas Kristiani dan setiap orang beriman.
Anugerah Diskresi.
Diskresi adalah membuat keputusan dan membimbing tindakan orang dalam situasi ketidakpastian dan dalam menghadapi kekuatan-kekuatan batin yang berkonflik.
Jalan menuju Panggilan dan Perutusan.
Diskresi panggilan juga merupakan proses panjang yang berkembang sepanjang waktu, selama seorang terus berjaga-jaga akan tanda-tanda yang dipergunakan Tuhan untuk menunjukan dan menetapkan panggilan yang sangat pribadi dan unik.
Dalam Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru terdapat rencana Tuhan dalam proses ‘panggilan dan perutusan’.
Tuhan meminta Abraham dan Sarah meninggalkan tanah mereka, yang pada permulaannya misterius.
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
(Kejadian 12:1-2).
Maria menjadi semakin sadar akan panggilannya dengan merenungkan kata-kata yang ia dengar dan peristiwa-peristiwa yang terjadi, bahkan apa yang ia tidak pahami.
Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.”
Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?”
Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka.
Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.
(Lukas 2:48-51).
Hanya dengan melepaskan ‘kebutuhan-kebutuhan’ yang mementingkan diri sendiri, orang menjadi terbuka untuk menerima rencana Allah dalam kehidupan keluarga, pelayanan tertahbis atau hidup membiara dan secara serius menjalani ‘profesinya’ serta dengan tulus mencari kebaikan bersama.
Pendampingan Orang Muda.
Dalam mendampingi generasi muda, Gereja menerima panggilannya untuk bekerjasama dalam sukacita orang-orang muda daripada tergoda untuk mengendalikan iman mereka.
Bukan karena kami mau memerintahkan apa yang harus kamu percayai, karena kamu berdiri teguh dalam imanmu. Sebaliknya, kami mau turut bekerja untuk sukacitamu.
(2 Korintus 1:24).
.
Dokumen persiapan Sinode OMK 2018 oleh Dokpen KWI dan Komkep KWI.